FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SUBJECTIVE WELL-BEING PADA MAHASISWA
Abstract
Subjective well-being (kesejahteraan subjektif) ditandai oleh kepuasan hidup, tingginya afek positif dan rendahnya afek negatif pada diri individu. Kesejahteraan subjektif pada mahasiswa perlu diamati sebab di masa ini terjadi transisi menuju masa dewasa awal. Perubahan yang terjadi di masa transisi ini dapat memengaruhi fungsi kognitif dan afektif individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi kesejahteraan subjektif pada mahasiswa, ditinjau dari sisi eksternal maupun internal. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah narrative review. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor internal seperti kebersyukuran, forgiveness, kepribadian, harga diri, spiritualitas, tujuan hidup dan kualitas kesehatan mental positif dapat mendukung terwujudnya tingkat kesejahteraan subjektif yang tinggi. Adapun faktor internal seperti gender, pengangguran, ketidakamanan finansial serta gejala gangguan kesehatan mental berpotensi mengancam kesejahteraan subjektif mahasiswa. Selain itu, faktor eksternal seperti hubungan sosial, dukungan keluarga dan performa akademik yang baik dapat mendukung terwujudnya tingkat kesejahteraan subjektif yang tinggi. Namun, faktor eksternal seperti situasi kehidupan yang tidak menentu dan stres akademik berpotensi mengancam kesejahteraan subjektif pada mahasiswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal (baik faktor protektif maupun faktor risiko) dapat memengaruhi kualitas kesejahteraan subjektif pada mahasiswa. Kaitan antara konteks kehidupan terhadap kesejahteraan subjektif, seperti masa Pandemi COVID-19 perlu mendapat perhatian dengan melakukan penelitian lebih lanjut.
Kata Kunci: faktor, kesejahteraan, subjektif, mahasiswaFull Text:
PDFReferences
Andiarna, F., & Kusumawati, E. (2020). Pengaruh Pembelajaran Daring terhadap Stres Akademik Mahasiswa Selama Pandemi Covid-19. Jurnal Psikologi, 16(2), 139–150.
Christina, D., & Matulessy, A. (2016). Penyesuaian perkawinan, subjective well being dan konflik perkawinan. Persona:Jurnal Psikologi Indonesia, 5(01). https://doi.org/10.30996/persona.v5i01.737
Diener, E. (2009). The Science of Well-Being : The Collected Works of Ed Diener. New York : Springer Publishing
Diener, E., Oishi, S., & Lucas, R. E. (2015). National accounts of subjective well-being. American Psychological Association, 70(3), 234–242. https://psycnet.apa.org/record/2015-14441-002
Dewi, L., & Nasywa, N. (2019). Faktor-faktor yang mempengaruhi subjective well-being. Jurnal Psikologi Terapan Dan Pendidikan, 1(1), 54–62. https://core.ac.uk/download/pdf/297190482.pdf
Eid, M., & Larsen, R. J. (2008). The Science of Subjective Well-being, In Choice Reviews Online, Vol. 45, (10). https://doi.org/10.5860/choice.45-5867
Ferrari, R. (2015). Writing narrative style literature reviews. Medical Writing. 24. 230-235. 10.1179/2047480615Z.000000000329.
Mahardika, A. (2020). 7 Penyebab Gangguan Kecemasan Mahasiswa di Tengah Pandemi Corona.
Mujamiasih, M., Prihastuty, R., & Prihastuty, R. (2013). Subjective Well-Being (SWB): Studi indigenous karyawan bersuku jawa. Journal of Social and Industrial Psychology, 2(1), 36–42.
Nevitasari, F. (2020). Mahasiswa Alami Gejala Stres dalam Pelaksanaan Kuliah Online. http://lpmprogress.com/post/mahasiswa-alami-gejala-stress-dalam-pelaksanaan-kuliah-online
Proctor, C. & Tweed, R. (2016). Measuring Eudaimonic Well-Being. 10.1007/978-3-319-42445-3_18.
Ratnawulan, T. (2018). Perkembangan dan tahapan penting dalam perkembangan. Journal of Special Education, 4(1), 65–74. http://ojs.uninus.ac.id/index.php/Inclusi/article/view/406
Refbacks
- There are currently no refbacks.