Pengembangan Jati Agro Farming dengan Penambahan Taman Agro Farma Berbasis Wisata Edukasi di Jati Agung Lampung Selatan

Yuli Wahyu Tri Mulyani, Samsuar Samsuar, Nopiyansyah Nopiyansyah, M Ilham Yanuari, As-Syfa Hamidayanti Susilo

Abstract


Jatiagro farming merupakan destinasi tempat wisata yang ada di Lampung tepatnya di Desa Jati Mulyo Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan. Jati Agro Farming merupakan tempat wisata yang berbasis perkebunan atau agrowisata dengan area pembibitan tanaman yang dijadikan sebagai tempat wisata edukasi. Kegiatan Pengabdian ini berinovasi melakukan pengembangan Jati Agro Farming dengan penambahan taman Agrofarma. Agrofarma wisata merupakan suatu wisata pertanian/perkebunan khusus untuk tanaman-tanaman obat, yang bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai tanaman obat, pengolahannya dan khasiat atau manfaatnya untuk mengatasi suatu penyakit. Permasalahan dari Jati Agro Farming adalah pertama terbatas pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih kurang dalam hal keahlian mengelola tanaman. Jati Agro Farming belum memiliki SDM yang handal dalam bidang pengelolaan tanaman. Sehingga tanaman-tanaman obat yang sudah ada sebelumnya banyak yang mati. Selain itu, Jati Agro Farming belum memiliki produk unggulan yang berbeda dibandingkan dengan wisata sejenis. Hasil dari kegiatan pada tahap pertama adalah pembuatan tempat pembibitan, mulai dari pembuatan tempat nursery yang berukuran 4x5 m, terbuat dari Baja ringan yang beratap waring, Kemudian persiapan bibit-bit tanaman obat. Pada data sebelumnya Jati Agro memiliki 19 jenis tanaman obat, namun banyak yang sudah mati karena tidak terurus dan yang tersisa hanya 12 jenis, yang didominasi paling banyak temu-temuan. Penambahan tanaman obat melalui kegiatan pengabdian pada tahap pertama ada 50 jenis bibit tanaman obat dan sudah diberikan pelabelan serta diidentifikasi kandungan-kandungan senyawa aktif yang terkandung didalamnya serta manfatnya untuk mengatasi berbagai penyakit. Total jenis tanaman obat di Jati Agro Farming sebanyak 62 Jenis. Kata Kunci—Agrofarma, Jati Agro Farming, Tanaman obat, Teh Herba, Wisata Edukasi

Full Text:

PDF

References


Riadi S, Normelani E, Bachri AA, Hidayah

N, Sari YP. Rancangan Atraksi Wisata Edukasi Di Kampung Hijau Kota

Banjarmasin.Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial.

;7(2):37-44.

Ermayati KC. Peranan Produk Wisata Dan

Brand Strategy Terhadap Minat Kunjungan

Wisatawan Di Herritage Palace Sukoharjo.

Jurnal Pariwisata dan Budaya.2021;

(2):146-155.

Yuliardi IS, Susanti AD, Saraswati RS.

Identifikasi Kelayakan Wisata Alam

Dengan Pendekatan 4A (Attraction,

Amenity, Accesibility Dan Ancilliary.

Jurnal Asitektur. 2021;1 (2): 36-53.

Al-Snafi, Ali Esmail. Pharmacological

importance of Clitoria ternatea – A review.

IOSR Journal of Pharmacy. 2016; 6(1):63-

Da-Costa-Rocha, I, Bonnlaender, B,

Sievers, H, PischelI&Heinrich. Hibiscus

sabdariffa L., A phytochemical and

pharma-cological review. Food Chemistry.

; 102(65). 424- 434.

Nurnasari E, Ahmad DK. Potensi

Diversifikasi Rosela Herbal (Hibiscus

Sabdariffa L.) untuk Pangan dan Kesehatan.

Jurnal Litbang Pertanian.2017; 9(2): 82-92.

Simanjuntak P. Identifikasi Senyawa Kimia

Dalam Buah Mahkota Dewa. Jurnal Ilmu

Kefarmasian Indonesia. 2008; 6(1).:23-28.

Putra, IW, Anak A, Luh MS. Identifikasi

Senyawa Kimia Ekstrak Etanol Daun Kelor

(Moringa oleifera L) di Bali. Indonesia

Medicus Veterinus. 2016;5(5): 464-474


Refbacks

  • There are currently no refbacks.