MAKNA KEBAHAGIAAN PADA PASIEN COVID-19 YANG TINGGAL DI PUSAT KARANTINA
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai makna kebahagiaan pada pasien Covid-19 yang tinggal di Pusat Karantina Ambulung Pemprov Kalimantan Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitiaf dengan pendekatan fenomenologis. Subjek penelitian adalah dua orang dengan kriteria adalah pasien covid-19 yang di karantina pada pusat Karantina Ambulung Pemprov Kalsel dan bersedia untuk dijadikan subjek penelitian. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi pada saat pengambilan data serta tenaga kesehatan yang bertugas di Pusat Karantina Ambulung Pemprov Kalimantan Selatan sebagai informan. Analisis data menggunakan analisis fenomenologis interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman emosional yang dialami pasien Covid-19 ketika pertama kali di diagnosis Covid-19 adalah merasa shock, was-was dan juga sedih. Kebahagiaan yang di alami oleh subjek terjadi secara bertahap dan melalui sebuah proses. Faktor yang mempengaruhi kebahagiaan pasien Covid -19 ada dua yaitu internal dan eksternal. Agama menjadi salah faktor yang dominan dalam kebahagiaan subjek. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya dukungan psikologis yang lebih intensif dalam rangka meningkatkan kebahagiaan pasien Covid-19, serta pasien agar Covid-19 lebih berfokus kepada kelebihan yang dimiliki dan lebih bersyukur dengan keadaan sekarang.
Kata Kunci: Kebahagiaan, Pasien; Covid-19; KarantinaFull Text:
PDFReferences
Ah Yusuf, Hanik Endang Nihayati, Miranti Florencia Iswari, & Fanni Okviasanti. (2016). Kebutuhan Spiritual Konsep dan Aplikasi Dalam Asuhan Keperawatan. Mitra Wacana Media.
Anna Yunita, & Made Diah Lestari. (2017). Proses Grivering dan Penerimaan Diri Pada Ibu Rumah Tangga Berstatus HIV Positif Yang Tertular Melalui Suaminya. Jurnal Psikologi Udayana, 4(2), 223–238.
Bastaman, H. D. (2007). Logoterapi: Psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih hidup bermakna. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Biswas-Diener, R., & Dean, B. (2007). Positive psychology coaching: Putting the science of happiness to work for your clients. John Wiley & Sons.
Carr, A. (2005). Positive psychology. 45, 94–97.
Compton. (2005). Introduction to positive psikologi. Malloy Incorporated.
Delle Fave, A., Brdar, I., Freire, T., Vella-Brodrick, D., & Wissing, M. P. (2011). The eudaimonic and hedonic components of happiness: Qualitative and quantitative findings. Social indicators research, 100(2), 185–207.
Diener, E., Tay, L., & Myers, D. G. (2011). The religion paradox: If religion makes people happy, why are so many dropping out? Journal of personality and social psychology, 101(6), 1278.
Edwards, L., Rand, K. L., Lopez, S. J., & Snyder, C. (2007). Understanding hope: A review of measurement and construct validity research.
Ellison, C. G. (1991). Religious involvement and subjective well-being. Journal of health and social behavior, 80–99.
F. N Wahdani. (2013). Pursuit of happiness for muslim: The role of religious orientation to achieve happiness [Skripsi (tidak diterbitkan)]. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan. (2020). Beranda | Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. covid19.go.id. https://covid19.go.id/
Kementerian Kesehatan RI. (2020a). Apa Yang Harus Dilakukan Masyarakat Untuk Cegah Penularan Covid-19? Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2020b). Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial PAda Pendemi Covid-19. Kementerian Kesehatan RI.
Khafidhoh. (2013). Teologi Bencana Dalam Persfektif M. Quraish Shihab. ESENSIA:
Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, XIV(1), 37–59.
Koeswara, E. (1992). Logoterapi: Psikoterapi Viktor Frankl.(Cet. 1).
Kubler-Rosse. (2009). On death and Dying: What the Dying Have to teach doctors, nurse, clergy and their own families. Routledge.
Lopez, S. J., Pedrotti, J. T., & Snyder, C. R. (2018). Positive psychology: The scientific and practical explorations of human strengths. Sage Publications.
Shihab, M. Q. (2006). Musibah dalam Persfektif al-Qur’an. Jurnal Studi al-Qur’an, 1(1).
Muthahhari, M. (2008). Fitrah: Menyingkap Hakikat, Potensi, dan Jatidiri Manusia. Jakarta: Penerbit Lentera.
Putra, G. B. B., & Sudibia, I. K. (2019). FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBAHAGIAAN SESUAI DENGAN KEARIFAN LOKAL DI BALI. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, 79–94.
Rizal Mubit. (2016). Peran Agama Dalam Multikulturalisme Masyarakat Indonesia. Episteme, 11(1), 163–184.
Seligman, M. (2005). Authentic Happiness. Mizan.
Seligman, M. E., & Royzman, E. (2003). Happiness: The three traditional theories. Authentic happiness newsletter, July.
Suryani, A. E., & Syafiq, M. (2016). Hidup dengan leukemia: Studi fenomenologi remaja penderita leukemia. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 6(2), 78–90.
Swartz, M. H. (1995). Buku ajar diagnostik fisik.
Veenhoven, R. (2005). Apparent quality-of-life in nations: How long and happy people live. Dalam Quality-of-Life Research in Chinese, Western and Global Contexts (hlm. 61–86). Springer.
Yudantara, K., & Gede, K. (2008). Semestinya Hidup itu Bahagia. Jakarta: Praninta Aksara.
Yuliana N. D. (2014). Hubungan Antara Religiusitas Dengan Kebahagiaan Pada Dewasa Awal [Skripsi (tidak diterbitkan)]. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Refbacks
- There are currently no refbacks.