Gambaran Cyber Aggression Pada Remaja di Jakarta
Abstract
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun sayangnya, perkembangan ini justru menimbulkan banyak kasus cyber aggression di dunia maya dimana kelompok yang paling berisiko melakukan cyber aggression kepada orang lain adalah remaja. Hal ini pun pasti membawa dampak bagi yang mengalami, baik secara fisik maupun psikis. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku cyber aggression pada remaja di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik purposive sampling sehingga mendapatkan responden sebanyak 160 orang melalui survei yang menggunakan kuesioner sebagai pengumpulan datanya. Penelitian ini menggunakan alat ukur Cyber Aggression Questionnaire for Adolescents (CYBA) yang sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia (α = 0.917). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat cyber aggression pada responden masih rendah; demikian pula dengan aspek-aspeknya yakni (1) impersonation (79,375%), (2) visual-sexual cyber aggression (88,125%), (3) visual cyber aggression teasing/happy slapping (90%), (4) verbal-written cyber aggression (62,5%), (5) verbal-oral cyber aggression (68,75%) juga tergolong rendah. Namun salah satu aspek cyber aggression, yaitu exclusion (69,625), termasuk ke dalam kategori sedang. Berdasarkan uji Mann-Whitney yang dilakukan juga tidak ditemukan adanya perbedaan antara cyber aggression responden laki-laki dan perempuan. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski cyber aggression yang dilakukan oleh responden masih tergolong rendah, tetapi hasil penelitian ini tidak dapat disimpulkan bahwa remaja tidak melakukan perilaku kenakalan secara daring dalam bentuk lain.
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.