Resilience Increases Gender Equality Due to Toxic Masculinity on Young Adult Productivity: A Systematic Review
Abstract
Manusia diciptakan menurut gendernya masing-masing. Kepribadian dan perilaku seseorang tidak boleh dibatasi oleh gender, namun budaya patriarki yang melekat yang mengharuskan laki-laki harus memenuhi kriteria tertentu sudah ada dalam masyarakat. Toxic masculinity yang terjadi pada laki-laki dapat menambah tekanan dan beban pada ketidakstabilan emosi karena cenderung sulit untuk mengendalikan emosi. Wanita pada dasarnya juga memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat apalagi dalam hal kesetaraan gender dimana dewasa ini wanita memerlukan berbagai banyak faktor untuk menunjang kesetaraan gender. Studi ini ingin melihat apakah toxic masculinity berpengaruh pada produktifitas dan angka depresi di Indonesia serta ingin mengetahui bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengurangi toxic masculinity dalam masyarakat. Dengan Metode sistematic literature review, diharapkan dapat menjawab pertanyaan dan memberikan pandangan mengenai peran wanita dalam memperjuangkan kesetaraan gender.
Full Text:
PDFReferences
IBCWE. (2022). Survei IBCWE Tunjukkan Toxic Masculinity di Tempat Kerja Masih Tinggi. parapuan. Iwamoto, D. K. (2018). Masculinity and Depression: A Longitudinal Investigation of Multidimentional Masculine Norms Among College Men. American Journal of Men's Health.
Daddow, O. &. (2021). Interpreting toxic masculinity in political parties: A framework for analysis. Party Politics, SAGE Journals.
Refbacks
- There are currently no refbacks.
This proceeding series is indexed by:


