INOVASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL: STRATEGI PENCAPAIAN LULUSAN BERKUALITAS

Suwito Eko Pramono

Abstract


Pendahuluan
Secara yuridis formal disebutkan sebagaimana disebutkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pengertian ini dapat dipandang sebagai tujuan pendidikan. Meskipun demikian, tujuan pendidikan dapat dirumuskan dengan kalimat yang sederhana. Misalnya, tujuan pendidikan adalah penguatan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan fungsional, serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Namun, untuk mencapai tujuan pendidikan bukan persoalan yang mudah. Sekurang-kurangnya, ada 3 (tiga) persoalan dasar yang harus mendapat perhatian dari semua stake holders. Pertama, pendidikan adalah dunia yang kompleks karena spektrumnya sangat luas dan beragam. Diskusi tentang pendidikan tidak pernah tuntas karena cakupan yang sangat luas seperti jalur, jenjang, sarana dan prasarana, sumber belajar, kualitas pendidik dan peserta didik, maupun tata kelola yang kurang efektif.
Kedua, dunia pendidikan adalah dunia yang menantang karena menjawab kebutuhan yang terus berubah. Apa yang dipikirkan dan digagas hari ini tidak mampu menjawab tantangan yang harus dihadapi pada 3 (tiga) sampai 5 (tahun) mendatang. Pendek kata, penyelenggaraan pendidikan selalu tertinggal dari kebutuhan, terutama yang berkaitan dengan dunia kerja. Persoalan ini disebabkan oleh hakikat pendidikan belum diimplementasikan secara optimal melalui pembelajaran sehingga tidak mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, kompetitif, dan adaptif. Apakah inovasi pembelajaran mampu menjawab tantangan ini? Atau perlu mengembangkan gagasan atau pola pikir baru seperti meninggalkan prinsip best practice dan mengedepankan prinsip futures practice.
Ketiga, pendidikan adalah dunia yang mulia karena tujuan pendidikan adalah untuk memuliakan anak-anak bangsa di masa mendatang. Meskipun, pendidikan tidak dapat menjamin masa depan seseorang yang lebih baik, namun dengan pendidikan akan terbersit harapan yang lebih cerah. Oleh karena itu, setiap anak Indonesia harus mendapatkan layanan pendidikan yang benar dan berkualitas. Artinya, pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang
kompeten, kompetitif, adaptif, serta lulusan yang memiliki integritas, budi pekerti, kekuatan batin, dan karakter sebagaimana disebutkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Dengan demikian, peningkatan mutu lulusan melalui inovasi pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan.
Berkaitan dengan persoalan di atas, maka pembelajaran sebagai implementasi pendidikan harus dilaksanakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan agar mampu memainkan peran dan fungsinya secara optimal. Saya percaya para pendidik telah berusaha melaksanakan pembelajaran secara benar dan baik (Notonagoro, 1997; Koentjoroningrat, 1989). Namun dalam kenyataannya, hasil pendidikan masih jauh dari harapan. Bagaimanakah kontribusi pendidikan ilmu pengetahuan sosial (PIPS) terhadap pencapaian tujuan pendidikan nasional dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas? Inilah salah satu pertanyaan dasar yang kemudian melahirkan tema ‘inovasi pembelajaran dan kewirausahaan’ untuk dikaji melalui seminar ini, di mana kewirausahaan dapat dipandang sebagai salah satu ending pendidikan yang konstruktif dan penting.


Full Text:

PDF

References


Pustaka

Barr, Barth, dan Shermis, 1977. Metods of Instruction in Social Studies. Virginia: National Concuil For The Social Studies.

Covey, S. R. (2004). The 7 habits of highly effective people: Restoring the character ethic. New York: Free Press.

Dadang Supardan. 2008. Pengantar Ilmu Sosial, Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta: Bumi Aksara.

Doyle Paul Johnson. 1990. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid 2. Terjemahan Robert M.Z. Lawang. Jakarta: Gramedia.

E.H. Carr, 1964. What is History. Harmondsworth. New York: Penguin Books.

Franz Magnis Suseno. 1999. Filsafat Kebudayaan Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Gottschalk LA. 1963. The psychoanalytic study of hand-mouth approximations, In Psychoanalysis and Contemporary Science. Edited by Goldberger L and Rosen VH. Vol 3. New York, International Universities Press, pp. 261-295.

Hasbullah. 2001. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Imam Barnadib .1982. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Yayasan Penerbit FIP IKIP Yogyakarta.

J.Van Baal. 1987. Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya. jilid I. Terjemahan J.Piry. Jakarta : Gramedia.

Jalaluddin. 1997. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama.

John Rawls. 1993. ‘Political Liberalism’: The John Dewey Essays in Philosoph IV. New York: Columbia University Press.

Koentjoroningrat. 1990. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan.

--------------------. 1989. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru

Made Pidarta. 1997. Landasan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notonagoro. 1977. Pancasila Secara Ilmiah Populer. Jakarta: Pantjuran Tudjuh.

Paul Sj. Suparno, dkk. 2002. Reformasi Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Roger M.Keesing. 1989. Antropologi Budaya, Suatu Perspektif Kontemporer. Jilid I. Terjemahan Samuel Gunawan. Jakarta: Erlangga.

Subagyo, dkk. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Semarang: UPT UNNES Press.

Suparlan Suhartono. 2007. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Theo Huijbers. 1986. Manusia Merenungkan Dirinya. Yogyakarta: Kanisius.

Wiranataputra dan Ojat Darojat, 2007. Paradigma Pendidikan IPS. Jakarta: Universitas Terbuka


Refbacks

  • There are currently no refbacks.