Abstract
Penelitian ini mengeksplorasi mengenai peran teknologi pencahayaan alami dan buatan dalam kafe yang terletak di bangunan Surabaya dengan arsitektur kolonial Belanda. Menggunakan pendekatan kualitatif rasionalistik dan metode deskriptif, studi ini menemukan bahwa pencahayaan alami, melalui elemen seperti jendela besar dan atap kaca, tidak hanya mendukung keaslian karakter bangunan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pencahayaan buatan, yang dapat meningkatkan biaya operasional dan dampak lingkungan. Pencahayaan alami membantu menciptakan suasana yang hangat dan mengundang, serta mendukung kesehatan dari aspek mental dan fisik pengunjung dengan memberikan akses yang lebih baik terhadap cahaya alami. Di sisi lain, pencahayaan buatan memberikan fleksibilitas yang diperlukan untuk menciptakan beragam atmosfer, memungkinkan pemilik kafe untuk menyesuaikan pencahayaan sesuai dengan waktu, acara, dan tema tertentu. Misalnya, pencahayaan lembut dapat menciptakan suasana romantis di malam hari, sementara pencahayaan yang lebih terang dapat mendukung suasana yang ceria pada siang hari. Namun, penting untuk menerapkan pencahayaan buatan dengan hati-hati agar tidak mengganggu integritas arsitektur dan nuansa kolonial yang khas. Sinergi antara kedua teknologi pencahayaan ini menjadi kunci untuk menciptakan pengalaman yang optimal bagi pengunjung, sekaligus menghormati warisan sejarah yang ada. Penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi arsitek, desainer interior, dan pemilik kafe dalam merancang ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetik dan nyaman. Dengan demikian, kafe dapat menjadi ruang yang menarik dan menyenangkan bagi pengunjung, menciptakan pengalaman kuliner yang tak terlupakan yang menghargai tradisi sekaligus memenuhi kebutuhan modern. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan dalam pengembangan desain kafe di bangunan bersejarah, sehingga mampu menjembatani antara nilai-nilai sejarah dan inovasi kontemporer.
References
Aryani, D. I. (2019). Tinjauan Sensory Branding dan Psikologi Desain Kedai Kopi Kekinian Terhadap Perilaku Konsumen (Studi Kasus: Mojo Coffee). Waca Cipta Ruang : Jurnal Ilmiah Desain Interior, 5 Nomor 1, 330–336.
Data Usaha Pariwisata Kafe Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya. (2023). Retrieved from Https://www.surabaya.go.id/uploads/attachments/2020/8/51023/kafepdf?1597 724690
Gardner, C. & Molony, R. (2001). Transformations Light. United Kingdom: RotoVision SA.
Handinoto. (1993). Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 19 Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
Handinoto. (2008). Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 36. No. 1. Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
Hartono, Samuel & Handinoto. (2006). Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 ( Studi Kasus Kompleks Bangunan Militer di Jawa pada Peralihan Abad 19 ke 20). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 34. Surabaya. Universitas Kristen Petra.
Maile, M. (2002). Richard Kelly: American Architectural Lighting Design: From Johnson’s Glass House to Seagram’s Glass Box, 1948-1958. Bard Graduate Center.
Maulidi, A. (2017). Pengertian Kafe (Cafe). Diakses tanggal 27 Juni 2022 dari https://www.kanalinfo.web.id/penger tian-kafe-cafe.
Muhadjir, Noeng. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasih.
Savitri, M. A. (2012). Peran Pencahayaan Buatan dalam Pembentukan Suasana dan Citra Ruang Komersial (Studi kasus pada Interior Beberapa Restoran Tematik di Bandung). Jurnal Ambiance, 17.