Kendala Induksi Kalus Tebu (Saccharum officinarum linn) Varietas PS 094 pada Media Dasar Murashige dan Skoog

Siti Muflihatul Khoiriyah, Wiwit Budi Widyasari, Evi Susanti

Abstract


Kesenjangan antara produksi dan kebutuhan gula dalam negeri membutuhkan upaya untuk mengatasinya. Usaha peningkatan produktivitas tebu dan perluasan area tanam terkendala pada pemenuhan bibit unggul dalam skala besar. Kultur jaringan merupakan metode alternatif yang dikembangkan untuk pemenuhan bibit unggul seperti varietas tebu PS 094 dalam jumlah banyak dengan waktu singkat. Induksi kalus merupakan tahap awal dari teknik kultur in-vitro yang bertujuan untuk menghasilkan kalus embrionik secara massal. Namun dalam pelaksanaanya terdapat beberapa kendala yang dapat menghambat keberhasilan kultur jaringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk megetahui kendala induksi kalus varietas PS 094 pada media dasar Murashige dan Skoog secara In Vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Pasuruan dari bulan Februari sampai Mei 2022. Penelitian terdiri dari 5 tahap yaitu Sterilisasi botol dan alat, pembuatan larutan stok, pembuatan media, sterilisasi eksplan dan tanam eksplan. Bahan tanam (eksplan) yang digunakan adalah daun muda yang masih menggulung dari pucukan tanaman tebu varietas PS 094 dan media yang digunakan adalah media MS (Murashige dan Skoog). Hasil penelitian menunjukan induksi kalus varietas PS 094 pada media Murashige dan Skoog memiliki 3 kendala yaitu, kontaminasi, browning dan kalus bersifat non-embrionik.


Full Text:

PDF

References


Suhesti, S., Khumaida, N., Wattimena, G. A., Syukur, M., Husni, A., Hadipoentyanti, E., & Hartati, R. S. (2020). Induksi Kalus Dan Regenerasi Dua Varietas Tebu (Saccharum officinarum L.) Secara In Vitro. Jurnal Penelitian Tanaman Industri, 21(2), 77. Retrieved from https://doi.org/10.21082/LITTRI.V21N2.2015.77-88.

Alfian, F. N., Restanto, D. P., & Soeparjono, S. (2015). PERTANIAN INDUKSI KALUS EMBRIOGENIK TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L .) VARIETAS NXI 1-3 Induction of Embryogenic Callus of Sugarcane ( Saccharum officinarum L .) Variety NXI 1-3. Berkala Ilmiah Pertanian, 1(1), 78–88.

Minarsih, H., Riyadi, I., Sumaryono, & Budiani, A. (2016). Mikropropagasi planlet tebu menggunakan sistem perendaman sesaat (SPS) Micropropagation of sugarcane plantlets using temporary immersion system (TIS). E-Journal Menara Perkebunan, 81(1). Retrieved 27 May 2022 from https://doi.org/10.22302/IRIBB.JUR.MP.V81I1.53.

Sukmadjaja, D., Supriyati, Y., & Pardal, S. J. (2016). Kultur Apeks untuk Penyediaan Bibit Unggul Tebu Varietas PS864 dan PS881. Jurnal AgroBiogen, 10(2), 45. Retrieved from https://doi.org/10.21082/JBIO.V10N2.2014.P45-52.

Suryowinoto, M. (1997). Pemuliaan tanaman secara in vitro. Kanisius.

Widyasari, W. B., Murdiyatmo, U., & Suminingrum, A. (1998). Kendala Sistem Mikropropagasi Tebu Melalui Kultur Kalus Dan Upaya Mengatasinya. Majalah Penelitian Gula, XXXIV(2), 9–22.

Behera, K. K., & Sahoo, S. (2009). Rapid In vitro Micro propagation of Sugarcane (Saccharum officinarum L. cv-Nayana) Through Callus Culture. Nature and Science, 7(4).

Rasud, Y. (2020). Induksi Kalus secara In Vitro dari Daun Cengkeh ( Syizigium aromaticum L .) dalam Media dengan Berbagai Konsentrasi Auksin ( In Vitro Callus Induction from Clove ( Syzigium aromaticum L .) Leaves on Medium Containing Various Auxin Concentrations ), 25(1), 67–72. Retrieved from https://doi.org/10.18343/jipi.25.1.67.

Kalus, I., Nyamplung, D., & Bap, K. (2013). Induksi Kalus Daun Nyamplung (, 2(1), 1–6.

Dwipayana, gusti arya janatik; Yuswanti, hestin; Mayun, ida ayu. (2016). No Title. E-Jurnal Agroteknologi Tropika, 5, No.3(Induksi Kalus Stroberi (Fragaria spp.) Melalui Aplikasi Asam 2,4-Diklorofenoksiasetat Secara In Vitro), 310–321.

Gandonou, C., Errabii, T., Abrini, J., Idaomar, M., Chibi, F., & Skali Senhaji, N. (2011). Effect of genotype on callus induction and plant regeneration from leaf explants of sugarcane (Saccharum sp.). African Journal of Biotechnology, 4(11), 1250–1255.

Retrieved 19 May 2022 from https://doi.org/10.4314/ajb.v4i11.71384

Hutami, S. (2008). 2_2008_Masalah Pencoklatan pada Kultur Jaringan, 4(2), 83–88.

Karjadi, A. K., & Buchory, A. (2008). Pengaruh Komposisi Media Dasar, Penambahan BAP, dan Pikloram. J. Hort, 18(1), 1–9.

Purnamaningsih Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, R. (2016). Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi melalui Kultur In Vitro. Jurnal AgroBiogen, 2(2), 74–80. Retrieved 19 May 2022 from https://doi.org/10.21082/jbio.v2n2.2006.p74-80.

Snyman, S. J., Meyer, G. M., Koch, A. C., Banasiak, M., & Watt, M. P. (2011). Applications of in vitro culture systems for commercial sugarcane production and improvement. In Vitro Cellular & Developmental Biology - Plant 2011 47:2, 47(2), 234–249. Retrieved 19 May 2022 from https://doi.org/10.1007/S11627-011- 9354-7

Khan, S. A., Rashid, H., Chaudhary, M. F., Chaudhry, Z., & Afroz, A. (2010). Rapid micropropagation of three elite Sugarcane (Saccharum officinarum L.) varieties by shoot tip culture. African Journal of Biotechnology, 7(13), 2174–2180. Retrieved 19 May 2022 from https://doi.org/10.4314/ajb.v7i13.58945.

Plant, D. B., & Benson, E. E. (2014). In vitro Plant Recalcitrance : An Introduction Author ( s ): Erica E . Benson Source : In Vitro Cellular & Developmental Biology . Plant , Vol . 36 , No . 3 ( May - Jun ., 2000 ), pp . Published by : Society for In Vitro Biology Stable URL : http://www.js, 36(3), 141–148.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.